Rabu, 26 Oktober 2011

Yang Boleh dan yang Tidak


Seorang jendral Militer mengundang para wartawan guna memberi arahan apa yang boleh
diberitakan dan apa yang tidak boleh diberitakan.
“Berita Suksesi tidak boleh ditulis, Presiden tidak suka. Pemogokan buruh, jangan ditulis, nanti
terjadi konflik. Berita korupsi tidak boleh dipolitisir, wibawa pemerintah rusak. Monopoli tidak boleh
menyebut keluarga Presiden, itu tidak etis. Politik tidak boleh memihak rakyat, nanti resah. Kenaikan
harga tidak boleh dijadikan berita utama, rakyat nanti marah. Berita ini tidak boleh.... Berita ini tidak
boleh....dst.”
Seorang wartawan muda yang tidak sabar lalu menyela, “kalau begitu Jendral, apa yang boleh
kami beritakan?”
Si Jendral menjawab dengan tenang, “ kalian beritakan yang barusan saya ucapkan!”

Dimana Otaknya



Seorang Indonesia menderita kecelakaan parah sehingga membutuhkan operasi otak yang canggih
di USA. Dokter di USA yang sedang melakukan operasi tersebut melakukan pembedahan pada kepala
korban, namun terjadi heboh besar karena ternyata didalam kepala korban tidak terdapat otak. Karena
mengalami jalan buntu, dokter tersebut menelpon koleganya yang biasa menangani operasi otak orang
Indonesia. Kolega ini dengan tenangnya menyarankan agar dokter tersebut jangan mencari otak orang
Indonesia di kepala tetapi di “dengkul” (= lutut) ... voila ... ternyata setelah dicheck ... memang betul otak
orang Indonesia tersebut betul-betul di “dengkul.”
Rajane

Matematika Uang



Di salah satu sekolah dasar di Yogyakarta, seorang guru mengajarkan matematika, dengan
menggunakan uang rupiah sebagai sarana penyampaiannya.
Bu Guru bertanya, “Perhatikan anak-anak, pada uang rupiah yang bergambar Pak Harto
berapakah nilai rupiahnya?”
Murid-murid menjawab, “Lima puluh ribu, Bu Guru!”
Bu Guru bertanya lagi, “Sekarang perhatikan, pada uang rupiah yang bergambar monyet di hutan
berapakah nilai rupiahnya?”
Murid-murid menjawab, “Lima ratus, Bu Guru!”
Untuk mentest kekuatan penalaran murid-muridnya, dengan penuh selidik, Bu Guru bertanya, “Jadi
apa kesimpulan yang dapat kita tarik dari gambar dan nilai masing-masing uang rupiah tersebut
anak-anak?”
Murid-murid secara serempak menjawab, “Lima puluh ribu dibagi lima ratus adalah seratus, Bu
Guru. Jadi menurut mata uang kita, Pak Harto sama nilainya dengan seratus monyet di hutan, Bu Guru!”

Tes Kelinci


Kepolisian, ABRI, dan badan intelejen BIA saling menyombong bahwa merekalah yang terbaik
dalam menangkap penjarah yang sedang marak saat sekarang. Soeharto merasa perlu untuk melakukan
tes terhadap hal ini.
Soeharto melepas seekor kelinci kedalam hutan dan ketiga kelompok pengikut tes di atas harus
berusaha menangkapnya
BIA masuk ke hutan. Mereka menempatkan informan-informan di setiap pelosok hutan itu.
Mereka menanyai setiap pohon, rumput, semak dan binatang di hutan itu. Tidak ada pelosok hutan yang
tidak di interogasi. Setelah tiga bulan penyelidikan hutan secara menyeluruh akhirnya BIA mengambil
kesimpulan bahwa kelinci tersebut ternyata tidak pernah ada.
ABRI masuk ke hutan. Setelah dua minggu kerja tanpa hasil, mereka akhirnya membakar hutan
sehingga setiap mahluk hidup didalamnya terpanggang tanpa ada kekecualian. Akhirnya kelinci tersebut
tertangkap juga hitam legam, mati ... tentu saja.
Kepolisian masuk hutan. Dua jam kemudian, mereka keluar dari hutan sambil membawa seekor
tikus putih yang telah hancur-hancuran badannya dipukuli. Tikus putih itu berteriak-teriak: “Ya ... ya ...
saya mengaku! Saya kelinci! Saya kelinci!”

love is..


Love
Apa yang disebut cinta? Kalau kamu diminta untuk menjawab hal ini kira-kira
apa jawaban kamu? Mungkin ada yang mulai menceritakan reaksi tubuhnya
ketika bertemu pria atau wanita yang disukai, seperti “cinta itu bikin lutut
gemetar deh kalo ketemu”, atau ada juga yang mengatakan “ cinta itu bikin kita
tidak bisa berkata-kata deh kalau ketemu dengan cowok yang gue suka”. Bisa
juga kamu menjawab “cinta itu sebuah perasaan yang mendalam dan perhatian
khusus pada orang tertentu”. Apapun yang kamu rasakan dan pikirkan tentang
cinta memang sangat abstrak sekali atau sulit di terjemahkan dalam kata-kata,
sampai Sternberg & Barners dalam The Psychology of Love (1988) membagi
penjelasan cinta ke dalam empat bagian besar yaitu; Love as a feeling (cinta
sebagai perasaan), love as an attitude (cinta sebagai sikap), love as a behavior (cinta
sebagai perilaku), dan love as a judgment (cinta sebagai sebuah penilaian).
Begitu abstraknya arti kata ini maka satu-satunya yang bisa menjelaskan cinta
atau sayang adalah kamu sendiri yang merasakan , mensikapi, melakukan dan
menilainya seperti diungkapkan Sternberg & Barners (1988). Artinya ketika
kamu mulai merasakan yang namanya jatuh cinta, lalu sikap kamu jadi berbeda
begitu juga dengan tingkah laku kamu terhadap orang yang kamu sukai,
sehingga penilaian kamu terhadap dia juga berubah menjadi lebih positif
tentunya. Pada saat seperti inilah banyak orang mengungkapkan bahwa cinta itu
buta, dimana orang yang sedang jatuh cinta mau berbuat apa saja demi orang
yang dia cintai, tapi asal kamu tahu biarpun cinta itu buta tapi jangan bodoh!
Gimana caranya sih supaya kalau jatuh cinta kita tidak berbuat bodoh?
Sebenarnya mudah saja, yaitu dengan memahami dulu arti sebuah
persahabatan. Jangan bicara cinta kalau kamu belum tahu arti sebuah
persahabatan. Karena melalui persahabatan yang sehat kamu dapat memahami
arti cinta. Apa sih sahabat? Silahkan kamu periksa sendiri kira-kira sahabat yang
kamu miliki saat ini, baik sejenis atau lawan jenis apakah sudah memiliki criteria
sahabat yang baik seperti berikut ini;
♥ Someone likes you (seseorang yang meyukai kamu)
♥ Someone you care for (seseorang yang peduli pada kamu)
♥ Someone you confide in (seseorang yang kamu percayakan rahasia-rahasia
pribadi)
♥ Someone to share with (seseorang yang berbagi dengan kamu)
♥ Someone you can rely on (seseorang yang bisa kamu andalkan)
♥ Someone who likes the same things as you (seseorang yang memiliki kegiatan
yang sama-sama disukai)
♥ Someone to give advice (Seseorang yang memberi nasehat pada kamu)
♥ Someone who will always stick up for you (selalu bersedia disisi kamu)
♥ Someone who balance your weakness (mengimbangi kekurangan kamu)
♥ Someone who value your help (menghargai bantuan kamu)
♥ Someone to share jokes with (berbagi cerita lucu dan bercanda)
♥ Someone who will always tell you truth ( Seseorang yang selalu mengatakan
yang sebenarnya )
♥ Someone who believes in you (seseorang yang percaya pada kamu)
♥ Someone who’ll tell you straight that you’re wrong (seseorang yang langsung
menegur ketika kamu melakukan kesalahan)
♥ Someone who worries about you (seseorang yang mengkawatirkan kamu)
♥ Someone who doesn’t get jealous (seseorang yang tidak cemburuan)
♥ Someone you support (saling mendukung)
♥ Someone who makes you feel good about yourself (seseorang yang membuat
kamu nyaman dengan diri kamu)
♥ Someone whose opinion you really value (seseorang yang pendapatnya
bernilai)
♥ Someone who’ll keep a secret (seseorang yang bisa menjaga rahasia kamu)
♥ Someone will introduces you to new things (seseorang yang memperkenalkan
kamu pada hal-hal baru)
Menilai arti seorang sahabat dan nilai sebuah persahabatan, dapat membantu
kita memahami arti cinta yang paling mendasar. Banyak orang sering
mengatasnamakan cinta dalam melakukan hal-hal yang luar biasa, tetapi sebagai
manusia dengan akal budi, kita punya pilihan terhadap perasaan atau emosi
kita, termasuk ketika kita sedang jatuh cinta. Banyak remaja bertanya apakah
mungkin jatuh cinta pada perempuan atau laki-laki yang salah? Untuk
menjawab pertanyaan ini, saya selalu menyarankan mereka, termasuk kamu
juga saat ini untuk melihat kembali criteria seorang sahabat seperti yang tertera
ungkapkan diatas, dimana sambil menilai apakah dia seorang memenuhi kriteria
seorang sahabat atau tidak, kamu juga bisa menilai apa yang kamu dapatkan jika
kamu jatuh cinta pada orang tersebut, jauh sebelum kita berpikir udah
berpacaran nantinya. Menilai perasaan kita sendiri ketika kita sedang jatuh cinta
akan banyak menolong kamu memahami bagaimana mengekpresikan cinta
dengan cara yang sehat pada orang yang tepat. Karena criteria sahabat tadi
dapat membantu membuka pikiran kita, apa sebenarnya arti cinta buat kita
pribadi.

Selasa, 25 Oktober 2011

novel brisingr dalam bahasa inggris

ACKNOWLEDGMENTS
Kvetha Fricaya. Greetings, Friends.
Brisingrwas a fun, intense, and sometimes difficult book to write. When I started, I felt as if the story
were a vast, three-dimensional puzzle that I had to solve without hints or instructions. I found the
experience to be immensely satisfying, despite the challenges it occasionally posed.
Because of its complexity,Brisingr ended up much larger than I anticipated—so much larger, in fact, that
I had to expand the series from three books to four. Thus, the Inheritance trilogy became the Inheritance
cycle. I’m pleased with the change too. Having another volume in the series has allowed me to explore
and develop the characters’ personalities and relationships at a more natural pace.
As withEragon andEldest, I never would have been able to complete this book without the support of a
whole host of talented people, to whom I am ever grateful. They are:
At home: Mom, for her food, tea, advice, sympathy, endless patience, and optimism; Dad, for his unique
perspective, razor-sharp observations on story and prose, helping me to name the book, and for coming
up with the idea of having Eragon’s sword burst into flame every time he says its name (very cool); and
my one and only sister, Angela, for once again consenting to reprise her character and for numerous
pieces of information on names, plants, and all things wool.
At Writers House: Simon Lipskar, my agent, for his friendship, his hard work, and for giving me a
much-needed kick in the pants early on inBrisingr (without which I might have taken another two years
to finish the book); and his assistant Josh Getzler for all he does on behalf of Simon and the Inheritance
cycle.
At Knopf: my editor, Michelle Frey, who did an awesome job of helping me to clean up and tighten the
manuscript (the first draft wasmuch longer); associate editor Michele Burke, who also labored over the
editing and who helped pull together the synopsis ofEragon andEldest; head of communications and
marketing Judith Haut, who from the beginning spread word of the series throughout the land; publicity
director Christine Labov; art director Isabel Warren-Lynch and her team for again putting together such
a classy-looking book; John Jude Palencar for a majestic cover painting (I don’t know how he can top it
with the fourth book!); executive copy editor Artie Bennett for checking every word, real or invented, in
Brisingr with such consummate care; Chip Gibson, head of the children’s division at Random House;
Knopf publishing director Nancy Hinkel for her unwavering support; Joan DeMayo, director of sales and
her team (huzzah and many thanks!); head of marketing John Adamo, whose team designed such
impressive materials; Linda Leonard, new media, for all her efforts with online marketing; Linda
Palladino, Milton Wackerow, and Carol Naughton, production; Pam White, Jocelyn Lange, and the rest
of the subsidiary rights team, who have done a truly extraordinary job of selling the Inheritance cycle in
countries and languages throughout the world; Janet Renard, copyediting; and everyone else at Knopf
who has supported me.
At Listening Library: Gerard Doyle, who brings the world of Ala gaƫsia to life with his voice; Taro